Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2013

Kisah Pak Taulani, Jual Sayur Keliling Mampu Kuliahkan Anak di UGM


Pada pagi yang cerah itu, orang beraktivitas seperti biasa lalu-lalang berkendara di Jalan Larangan Indah, Larangan, Tangerang, Banten. Jalan ini memang dijadikan alternatif bagi penglaju yang tinggal di Tangerang dan bekerja di Jakarta. Di antara lalu-lalang itu tampak seorang pedagang sayur keliling menjajakan daganganya.

                           

Di kala Pemerintah DKI Jakarta tengah sibuk mengelola pasar tradisional, pedagang sayur keliling justru menghadirkannya ke tengah warga. Pekerjaan yang seringkali dipandang sebelah mata, namun kehadirannya selalu dinanti.

"Saya lebih suka jalan, bisa ketemu dengan banyak orang," kata seorang pedagang sayur keliling, Taulani (54) saat diwawancarai detikcom, Selasa (9/7/2013).

Memakai kaus biru, bercelana coklat, dan sendal jepit hitam, Taulani bersemangat melayani pelanggan-pelanggannya yang mayoritas perempuan di tepi Jalan Larangan Indah. Jam menunjukan pukul 08.15 Wib, terlihat gerobak sayurnya masih penuh terisi berbagai sayur hingga buah-buahan.

Sedikit demi sedikit isi gerobak itu berkurang. Pembeli datang silih berganti dari penduduk yang tinggal di dekat lokasi, hingga yang kebetulan lewat dan sekedar menanyakan, "Gurame ada , Pak?","Tahunya masih ada?", "Tauge masih?", dan lain sebagainya.

Tidak terasa waktu bergulir menunjukan pukul 09.30 Wib. Sang surya mulai terasa teriknya dan Taulani sudah tidak tampak menjajakan daganganya. Merapikan gerobaknya dan mulai bergegas untuk keliling, Taulani memulai ceritanya.

"Tahun '78 saya ke sini (Jakarta), pertamanya di Pasar Minggu. Di Pasar Minggu juga jualan sayur keliling gini," tuturnya sambil mendorong gerobak.

Ia bercerita kisah awalnya berjualan sayur dengan modal yang kecil yang diawali dengan menjual kangkung dan bayam, dari keuntungan yang dikumpulkan lalu ditambahkan ayam dan ikan dalam dagangannya. Kawasan Pasar Minggu yang ramai dan banyak pula pedagang sayur membuatnya berpikir untuk berhijrah.

"Tahun '83 saya pindah ke sini (Larangan). Masih sepi banget di sini, tidak seperti sekarang ini. Waktu itu juga belum punya langganan jadi ya harus berjuang dari nol," tambahnya.

Keuntungan berjualan sayur tidak besar jika dibandingkan pedagang di pasar. Menurutnya pedagang pasar dapat menjual sayuran dengan selisih harga yang signifikan setelah membelinya dari distributor. Sedangkan pedagang sayur keliling hanya bisa memberi selisih seribu hingga dua ribu rupiah dibanding harga pasar tempat ia membeli barang dagangan.

"Keuntungannya memang tidak besar, tapi saya bisa sekolahkan anak saya hingga lulus kuliah di Jurusan Peternakan UGM," kenangnya dengan senyum bangga.


sumber | edan77.blogspot.com | http://news.detik.com/read/2013/07/10/101817/2297609/10/kisah-pak-taulani-jual-sayur-keliling-mampu-kuliahkan-anak-di-ugm?991101mainnews

Rabu, 10 Juli 2013

Mari Kita Belajar Pantang Menyerah dari Presiden ini


Kemalangan dan penderitaan bukan kartu mati dalam meraih cita-cita. Yang dibutuhkan adalah perjuangan tak kenal lelah serta kesabaran, dan kita bisa belajar dari presiden yang satu ini.

Andrew Jackson adalah seorang presiden Amerika Serikat yang ke-7. Beliau lahir di Lancaster Country, South Carolina pada tanggal 15 Maret 1767. Dua minggu sebelum kelahirannya, ayahnya meninggal dunia. Andrew Jackson menjadi seorang yatim sejak lahir. Andrew diasuh oleh ibunya dan mereka tinggal bersama ipar ibunya. Pada masa itu, ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah.
 
 

Saat berusia 13 tahun, ia masuk tentara milisi Amerika dan turut berjuang dalam revolusi Amerika melawan Inggris. Jackson menjadi yatim piatu pada usia 14 tahun saat ibunya meninggal karena demam tinggi.

Kemudian ia mendapat surat untuk membuka praktik hukum dan pindah ke Nashville, Tennessee. Jackson menjadi orang pertama yang mewakili negara bagian Tennesse di kongres Amerika Serikat. Ia diangkat menjadi senator untuk mengisi kursi seorang senator yang meninggal. Pada tahun yang sama ia keluar dari senat untuk mengurus hal-hal pribadi. Setelah keluar dari senat, Jackson menjadi jaksa di Mahkamah Tinggi Tennesse.

Pada tahun 1804, ia menjadi Mayor Jendral tentara milisi Tennesse. Kesuksesannnya dalam bidang militer merintis jalannya menuju jabatan kepresidenan pada tahun 1824, tetapi gagal. Empat tahun kemudian ia berusaha lagi dan kali ini berhasil. Pada tahun 1829, Jackson dilantik menjadi seorang presiden. Ia memegang jabatan presiden selama dua kali berturut-turut. Sewaktu menjabat, ia didampingi oleh John Caldwell Calhoum dan Wartin Van Buren.

Anda pun juga bisa meraih hal yang sama jika Anda selalu menerapkan 3 hal, seperti apa yang telah dilakukan seorang Andrew Jackson: Sabar, Pantang Menyerah dan Ulet.





sumber | edan77.blogspot.com | http://www.apakabardunia.com/2013/07/belajar-pantang-menyerah-dari-presiden.html

Senin, 17 Juni 2013

Ajari Anak Hakikat Kerja Keras, Jutawan Cina Jadi Tukang Sapu


Wuhan : Setiap subuh, selama enam hari dalam seminggu, Yu Youzhen bekerja keras membersihkan jalanan sepanjang 3,2 kilometer di Kota Wuhan, Cina. Menyapu, menjepit dan menyingkirkan kotoran hewan yang berceceran, memungut sampah.

Ia selalu memakai seragam yang sama: jaket dan topi oranye. Sepeda mini butut yang dipasangi keranjang sampah, jadi "kendaraan dinasnya". Dengan tampilannya itu, sama sekali tak ada yang menyangka, perempuan 53 tahun tersebut adalah seorang jutawan!



Yu Youzhen adalah pemilik dan pengelola 17 apartemen, pengusaha yang meraup untung dari boom properti di Cina.

Dengan kekayaannya itu, ia bisa saja ongkang-ongkang kaki, memanjakan diri di salon dan spa, atau berbelanja. Alih-alih demikian, ia justru rela menjadi pekerja kontrak Tim Pembersih Distrik Chengguan, Wuchang, dengan gaji 1.420 yuan atau setara Rp 2,2 juta sebulan. Sejak tahun 1998 ia menjalani profesinya itu.

Apa motivasinya?

"Aku ingin menjadi panutan bagi putra dan putriku. Aku tak mau duduk bermalas-malasan, hanya menggerogoti keberuntunganku," kata dia seperti dimuat Daily Mail, Sabtu (5/1/2013).

Ia tak mau memberi kesan pada anak-anaknya, menjadi induk semang properti, dengan jumlah kekayaannya yang membuat iri banyak orang, berarti sah-sah saja untuk hidup senang dan bermalas-malasan. "Gaya hidup semacam itu akan merusak mereka dalam jangka panjang," kata Yu.



Dulunya Petani Sayur

Pada tahun 1980-an, Yu Youzhen adalah petani sayur di Desa Huojiawa, Wuhan. Bersama suaminya, ia menabung yuan demi yuan dan akhirnya berhasil tiga bangunan berlantai lima untuk disewakan.

Pada tahun 2008, berkat kebijakan pemerintah, tanah dan bangunannya digusur, ia mendapat kompensasi berupa 21 unit apartemen yang lumayan luas. Empat di antaranya telah dijual. Meski demikian, 17 unit miliknya yang tersisa laris manis disewa, menghasilkan uang yang nilainya lumayan untuk mendukung gaya hidup mewah. Belum lagi timbunan harta yang ia hasilkan selama ini.



Tapi, saat itu, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, penduduk desa yang sama-sama menerima kompensasi justru terjebak dalam perjudian, bahkan penyalahgunaan narkoba. Itu mengapa ia memilih untuk tetap bekerja keras. Khawatir dia dan keturunannya menemui nasib serupa.

Kepada dua anaknya, ia mengancam, "jika kalian tidak bekerja, aku akan menyumbangkan apartemen-apartemen itu pada negara," kata dia seperti dimuat Chinasmack.

Entah takut atau meneladani sikap sang ibu, putranya mendapatkan gaji sebesar Rp 3 juta sebagai sopir, dan putrinya bergaji Rp 4,6 juta dari bekerja serabutan.(Ein)





 



 sumber | edan77.blogspot.com | http://news.liputan6.com/read/481228/ajari-anak-hakikat-kerja-keras-jutawan-cina-jadi-tukang-sapu

Minggu, 16 Juni 2013

SUBHANALLAH... Penampakan Ketika Waktu Sholat Tiba


for penampakan:


Sholat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.

Rosulullah SAW. Bersabda: sesungguhnya yang pertama kali diperhitungkan amalan seorang hamba di hari qiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya benar, maka sesungguhnya berbahagia dan beruntung tapi apabila tidak benar, maka sungguh celaka dan rugi. (H.R. Tirmidzi dan Nasa’i)...
















































Spoilerfor buka:

Spoilerfor lagi:


















sumber | edan77.blogspot.com | http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000015807684